Ssstt..!!! Begini Modus Kecurangan PPDB SMA Negeri di Kota Depok

CILODONG, DEPOK24.com – Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA dan SMK Negeri di Kota Depok tahun 2019 sudah selesai.

Meski proses penerimaan siswa yang dilaksanakan secara serentak pada tanggal 17 – 22 Juni 2019 itu berlangsung dengan aman dan lancar hingga batas akhir waktu pelaksanaan pendaftaran, namun siapa sangka, ternyata banyak indikasi kecurangan dalam pelaksanaannya.

Salah satu dugaan kecurangan yang dilakukan adalah dengan cara memanipulasi jumlah kuota penerimaan siswa seperti yang terpampang di website PPDB Jawa Barat tahun 2019.

Berdasarkan penelusuran Depok24.com (JBKD Grup), hampir seluruh SMA Negeri di Kota Depok melakukan dugaan kecurangan dan manipulasi terkait jumlah quota penerimaan siswa di sekolahnya.

Seperti apa modus yang dilakukan ? Berikut rangkuman hasil penelusuran beserta data kelas dan jumlah siswa yang dihimpun redaksi depok24.com.

SMAN 1

Kuota penerimaan siswa baru di SMA Negeri 1 Depok (Sesuai Web PPDB Jabar) tercatat sebanyak 305 siswa.

Jika di sekolah tersebut membuka 9 kelas/rombel dan masing-masing kelasnya diisi 36 siswa, maka siswa yang seharusnya diterima adalah sebanyak 324 siswa.

Artinya, ada selisih 19 siswa yang dicurigai akan diterima di SMAN 1 Depok tanpa menggunakan jalur resmi (324 – 305 = 19)

Namun apabila sekolah tersebut membuka 10 kelas/rombel, maka siswa yang seharusnya diterima adalah sebanyak 360 siswa.

Jika SMAN 1 membuka 10 kelas, berarti akan ada sekitar 55 siswa baru yang diterima di SMAN 1 Depok tanpa menggunakan jalur resmi (360 – 305 = 55).

Sementara jika SMAN 1 Depok membuka 11 rombel, maka siswa yang seharusnya diterima adalah sebanyak 396 siswa.

Artinya, akan ada 91 siswa baru yang akan diterima di sekolah tersebut, tanpa menggunakan jalur resmi (396 – 305 = 91).

=> Kuota di web PPDB : 305
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 2

=> Kuota di web PPDB : 313
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 3

=> Kuota di web PPDB : 306
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 4

=> Kuota di web PPDB : 306
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 5

=> Kuota di web PPDB : 306
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 6

=> Kuota di web PPDB : 306
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 7

=> Kuota di web PPDB : 245
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 8

=> Kuota di web PPDB : 238
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 9

=> Kuota di web PPDB : 206
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 10

=> Kuota di web PPDB : 306
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 11

=> Kuota di web PPDB : 144
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 12

=> Kuota di web PPDB : 175
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

SMAN 13

=> Kuota di web PPDB : 313
=> 9 kelas x 36 siswa : 324
=> 10 kelas x 36 siswa : 360
=> 11 kelas x 36 siswa : 396

Untuk mengetahui selisih jumlah siswa yang rawan “digelapkan” di masing-masing sekolah negeri diatas, pembaca tinggal menghitung saja jumlah kelas/rombel dikurangi dengan jumlah kuota penerimaan siswa seperti yang dimuat di website PPDB SMAN Jawa Barat.

Informasi lain yang didapat depok24.com, sejumlah sekolah negeri itu kabarnya juga meminta sejumlah uang kepada orang tua siswa.

Infonya, uang pungutan berkedok sumbangan itu jumlahnya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan PPDB tahun 2018 lalu.

“Tahun ini keponakan saya masuk di SMAN 8 melalui jalur online (Murni), tetapi tetap saja diminta bayar Rp 8 juta sama sekolah. Itu gimana ya ?”, ujar DW, salah seorang wali dari siswa yang masuk ke SMAN 8 Depok melalui jalur zonasi jarak, Minggu (7/7/2019).

Sebagai informasi, pada PPDB tahun 2018 lalu, SMAN 8 Depok diketahui melakukan pungutan sebesar Rp 6,5 juta – Rp 8 juta kepada orang tua siswa yang anaknya diterima di sekolah tersebut.

Pungutan uang sebesar itu dilakukan pihak sekolah dengan dalih untuk pembangunan ruang kelas baru.

Sementara pada tahun 2019 ini, SMAN 8 Depok kembali melakukan pungutan tetapi dalih yang digunakan adalah untuk pembayaran gaji guru honor.

Menanggapi informasi terkait dugaan manipulasi jumlah quota penerimaan siswa, Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan di SMA Negeri 8 Kota Depok, Sugiarto membantah.

Melalui pesan singkat WhatsApp, Sugi (Sapaan akrab Sugiarto) mengatakan bahwa informasi tersebut tidaklah benar.

Bahkan orang kepercayaan yang selalu diandalkan dalam setiap proses PPDB di SMAN 8 Kota Depok itu mengatakan bahwa tidak ada ruang kelas untuk dapat menampung kelebihan jumlah siswa seperti yang disebutkan diatas.

“Itu hoax kabar dari mana itu lagi pula kita ngga ada kelasnya”, jawab Sugi melalui pesan singkat WhatsApp. (Ferry Sinaga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here